Bambang Tridoyo, Melukis di Jalanan Hingga Memiliki Galeri
Bambang Tridoyo (60) pria dengan topi baret di kepala ini terus menggoreskan pastel di atas kanvas, menggambar lekuk demi lekuk wajah orang yang akan dilukisnya. Bagi pria kelahiran 1956 ini, melukis adalah bagian dari hidupnya yang tak akan pernah mati.
Pria asal Kebumen, Jawa Tengah ini
mulai tertarik dan mencintai dunia lukis sejak tahun 1975. Di tahun yang sama
pula, ia mulai menggeluti dunia lukis. Melukis telah menjadi hobi dan
profesinya saat ini.
Berbeda dengan pelukis jalanan pada
umumnya yang menggunakan cat air sebagai media lukis. Bambang justru malah
menggunakan kapur pastel sebagai media dalam lukisnya.
"Saya melukis pakai hati, kapur
ini hanya medianya saja," tegasnya.
Selain menjalani aktivitasnya sebagai
seorang pelukis, ia juga sering memberikan pengetahuan mengenai dunia lukis
yang dimilikinya kepada pelajar atau pun mahasiswa melalui sebuah workshop.
Sebelum menjadi seorang pelukis ia
pernah menjalani profesi sebagai seorang salesman di perusahaan Unilever. Tidak
hanya itu, ia pun pernah bekerja di Hotel Hiltong (sekarang Hotel Sultan),
bagian dekorasi. Namun, karena memiliki darah seni yang begitu tinggi akhirnya
ia memutuskan untuk menjadi seorang seniman.
Darah seni yang selama ini melekat
dalam dirinya menurun dari sang ayah. Meskipun begitu, keahlian dan
kemampuannya dalam melukis ia dapatkan dengan cara belajar otodidak.
“Ayah saya dulunya seniman lukis juga
seperti saya. Ketujuh saudara saya pun semuanya kini menggeluti dunia seni,
cuma alirannya saja yang berbeda-beda,”ujar Bambang.
Ratusan karya dengan berbagai tema
pun sudah laris manis terjual olehnya. Dari mulai kisaran harga Rp400.000
hingga mencapai jutaan rupiah. Penikmat lukisannya tidak hanya berasal dari
kalangan dalam negeri saja, melainkan ada juga dari luar Indonesia, salah
satunya Jepang.
Di tahun 2007, ia sudah memiliki
sebuah galeri sendiri di kawasan Pondok Kopi, Keranji, Bekasi Barat, dan diberi
nama Galeri Masken, yang berarti Dimas dan Niken. Kedua nama itu merupakan nama
anaknya dari istri pertama. Bermodalkan hobi dan kemampuan yang dimiliki, di
tahun 2010 ia kembali membuka tempat usaha melukis di trotoar kawasan wisata
Kota Tua Jakarta bersama para pelukis lainnya.
Menjalani hidup sebagai seorang
pelukis selama lebih dari 40 tahun dengan penghasilan yang tak menentu, membuatnya
harus merasakan kegagalan dalam berumah tangga. Bukan hanya untuk sekali, melainkan
sudah ketiga kali dalam hidupnya.
Penghasilan yang tidak menentu
menjadi alasan utama ia ditinggal oleh istri-istrinya dahulu. Meskipun begitu
hal ini tidak menjadikan ia patah semangat, dan berhenti berkarya dalam
melukis.
"Saya menganggap semua kejadian
yang telah menimpa saya selama ini merupakan ujian dari Allah SWT. Dan saya
percaya Allah pasti lebih tau jalan yang terbaik untuk saya. Lagi pula, saya
kini telah memiliki tanggung jawab baru kepada istri keempat saya beserta
anak-anaknya. Melukis menjadi tempat saya menuangkan isi hati saya, jadi sampai
kapanpun saya tidak akan pernah berhenti melukis, kecuali kalau saya sudah
meninggal nantinya," jelasnya.
Himpitan hidup yang dialami, tidak
menjadi alasan bagi Bambang untuk berhenti berkaya dalam dunia seni lukis.
Hanya satu harapannya, ia ingin agar ilmu yang dimilikinya kelak dapat
bermanfaat bagi orang banyak.


Komentar
Posting Komentar