Secangkir Kopi Cokelat



Aku rasa kini aku mulai merindukanmu, bahkan sangat-sangat merindukanmu, kopi hitamku. Merindukan kehadiran kopimu dalam secangkir cokelat panas milikku.

“Huft…,” helaan napas berat terdengar dari salah satu sudut Cafe Rauge siang itu. Dari arah pintu cafe terlihat seorang perempuan dengan rambut hitam sepundak tengah menenggelamkan kepalanya di antara lipatan tangan. Setengah jam sudah ia berada di cafe itu seorang diri. Ada apa dengan dirinya? Entahlah ia juga tidak mengerti, yang ia tahu kini ia merasa ada yang hilang dari dirinya.

Menit berikutnya ia mulai mengangkat kembali kepalanya, menampakkan sedikit wajahnya yang terlihat muram. Matanya kembali terfokus pada laptop di hadapannya, namun detik kemudian pandangannya beralih pada tiga cangkir di depan, tepat di samping kanan laptop miliknya. Dua cangkir berisi cokelat panas, dan kopi hitam serta satu cangkir kosong. Beberapa potongan ingatan  kembali berputar dalam memorinya.

FLASHBACK

“Cokelat panasnya satu ya mbak,” ucap seorang pengunjung Cafe Rauge pada seorang pelayan yang menghampiri meja tempatnya kini, meja nomor 10, terletak di sudut kiri cafe dekat jendela.

Friska POV

Aku memang sering berkunjung ke cafe ini, untuk menenangkan fikiran atau sedekar menikmati secangkir cokelat panas kesukaanku. Meja nomor 10 menjadi tempat favoritku di Rauge, di tempat inilah aku biasa menuangkan semua inspirasi yang kudapat ke dalam tulisanku.

Namaku Arinda Friska Nataya, namun orang-orang lebih mengenalku sebagai Friska. Aku bekerja sebagai seorang penulis di salah satu penerbit yang ada di Jakarta.

"Ah deadline-nya semakin dekat lagi,” gerutuku sambil terus menggerakan jemari di atas keyboard laptop, sesekali aku kembali membenarkan letak kacamataku.

Tak lama pesananku datang, "Ah cokelat panas aku merindukanmu," ucapku pelan sambil mengambil cangkir itu dan mengesap isinya sedikit demi sedikit. Menikmati setiap aroma dan cita rasa cokelat yang kuminum.

Di Sisi Lain

I think that possibly,
maybe I'm falling for you
Yes
there's a chance that I've fallen quite hard over you

I've seen the paths that your eyes wander down
 I want to come too

I think that possibly,
maybe I'm falling for you

No one understands me quite like you do
Through all of the shadowy corners of me

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

I never knew just what it was about this old coffee shop I love so much
All of the while I never knew

Suara khas laki-laki dengan iringan beragam alat musik kembali mengalun indah memenuhi area Cafe Rauge siang itu. Sambil membawakan lagu "Falling In Love At A Coffee Shop" milik Landon Pigg, mata lelaki itu terus tertuju pada satu meja di sudut kiri cafe dekat jendela.

All of the while, all of the while, it was you

Laki-laki itu menyudahi nyanyiannya, pandangan matanya masih tetap sama, masih tertuju pada seorang perempuan di meja nomor 10 yang tengah duduk menyendiri.

Andra POV

"Ah itu dia, si cewek cokelat. Dia masih terlihat sama seperti hari-hari sebelumnya, tetap cantik," batinnya.

Aku segera menyudahi lagu yang kubawakan, sambil terus memandangnya dari atas panggung ini.
Sejak tadi aku memang telah memperhatikannya, bahkan ketika ia baru memasuki cafe ini. Aku memperhatikannya dari jauh, melihat semua tingkah lucu yang dilakukannya tadi. Gerutunya, kerucutan bibirnya, bahkan senyum manisnya ketika meminum cokelat hangat, aku melihat semuanya dan aku menyukai semua itu.

Aku menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya di cafe ini, tepat tiga hari yang lalu. Namun, kemarin-kemarin sepertinya aku kurang beruntung, aku tak pernah sempat menyapanya, dan aku tak akan menyianyiakannya kalinya.

"Andra, Andra Putra Raharja, mau ke mana lu?"tegur Reldy salah satu teman bandku, ketika melihatku mulai menuruni panggung dengan terburu-buru. "Ada urusan bentar, Dy," kataku sambil berlalu menuju meja nomor 10.

"Hai, sorry boleh saya duduk di sini?" tanyaku padanya.

Dia melirik ke arahku sekilas sambil menaikkan sedikit alisnya bingung. "Oh, silakan," balasnya singkat, dan kembali mengalihkan perhatiannya pada laptop di hadapannya.

"Kopi hitamnya satu ya, Mbak," ucapku pada seorang pelayan yang lewat.

"Oya namanya siapa? Nama saya Andra Putra Raharja, panggil aja Andra," kataku memperkenalkan diri.

Dia hanya diam sebentar, dan melanjutkan kembali aktivitas mengetiknya tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku hanya diam melongo melihat tanggapannya ketika aku ajak berkenalan, "Ah, bagaimana bisa ada manusia seperti ini," gerutunya dalam hati. Aku kembali memperhatikannya, tiba-tiba pandanganku tertuju pada gelang yang ada di tangan kanannya, "Oh Friska namanya Friska," lanjutku dalam hati, cantik."

"Permisi Mas kopinya," ujar seorang pelayan sambil mengantarkan pesananku.

"Iya terima kasih," balasku.

Mataku tanpa sengaja tertuju pada cangkir berisi cokelat hangat miliknya yang tinggal setenagah, aku tersenyum, sesaat kemudian aku mulai menuangkan kopi di cangkirku ke dalam cangkir miliknya itu.
Tanpa aku sadari perempuan itu memperhatikan apa yang aku lakukan barusan terhadap cangkirnya. Terdengar helaan nafas berat darinya, aku hanya balas tersenyum.

"Kamu harus nyobain ini Friska, kamu pasti bakal ngerasain sensasi yang berbeda setelah minum minuman ini." tuturku sambil menyerahkan cangkirnya yang telah aku campurkan dengan kopi hitam milikku.

"Tidak usah terima kasih," seketika dia langsung menutup laptopnya dan berlalu pergi.

Friska POV

"Ih dasar cowok nyebelin, ganggu banget, pakai acara nuang kopinya ke coklat panas aku lagi," decaknya kesal mengingat kejadian tadi di cafe.

"Tapi kok tadi dia bisa tau nama gue ya? Ah iya pasti karena gelang ini," tanya dan jawabnya sendiri sambil melihat tangan kanannya yang terdapat gelang bertuliskan namanya.

"Semoga besok-besok gak akan ketemu lagi sama dia," ucapnya penuh harapnya.

3 Hari Kemudian

Friska POV

(Café Rauge)

"Bagaimana bisa aku gak tau kalau dia itu penyanyi di cafe ini, padahalkan aku sering ke sini. Lagi kenapa sih itu orang gangguin hidupku? Apa dia gak capek, bahkan setiap bertemu denganku pun dia selalu menuangkan kopi hitam di cangkir coklat panasku, mencampurkannya dalam satu gelas yang sama dan kemudian menyuruhku meminumnya," aku mulai merutuki kebodohanku dan menggerutu tentangnya.

Dari jauh terlihat seorang pelayan perempuan berjalan menuju ke arah mejaku. Aku hanya meliriknya sekilas serta mengucapkan terima kasih padanya dan kembali fokus pada laptopku.

"Aromanya kok kaya ada yang beda ya, tidak seperti biasanya," tanyanya pada diri sendiri. "Kayanya ada yang aneh deh," tambahnya sambil terus mencium aroma dari gelas yang ada di tangannya. Perlahan aku mulai meminum minuman tersebut juga untuk memastikan dugaan aku benar atau salah.

"Loh rasanya kok lain sih, gak kaya cokelat panas yang biasa aku minum, akukan pesannya cokelat panas," bingungnya.

"Tapi rasanya enak juga," lanjutnya sambil menampilkan senyuman.

Andra POV

"Itu memang bukan cokelat panas yang biasa kamu minum. Minuman itu dari aku, cokelat panas kamu aku campur sama kopi hitamku. Tapi rasanya jauh lebih enak bukan? Buktinya aja itu kamu minumnya sampai belepotan gitu, hehe," godanya di akhir kalimat.

"Not bad lah," ia kembali meneguk minuman itu.

"Yah masih gengsi aja," cibirku.

FLASHBACK OFF

Friska POV

Sudah beberapa minggu ini aku tak bertemu dan melihat Andra, padahal setelah kejadian waktu itu kami semakin dekat. Aku juga tidak tau dia sekarang ada di mana dan sedang apa. Terakhir kali aku bertemu dengannya dia hanya bilang kalau ia sedang sibuk dan ada urusan penting.

“Ternyata udah satu jam aku di sini,” ujarku sambil melihat jam di pergelangan tangan kiriku.

Aku kembali menatap ke arah jendela sebelahku, melihat keadaan di luar sekitar cafe.

“Cafe Rauge, meja nomor 10, secangkir cokelat panas, kopi hitam, dan satu cangkir kosong, tetapi ada yang kurang satu,” lirihku menunduk lesu.

“Perlu teman minum?” tawar seseorang di hadapanku.

“Tidak terima…,” ucapku mengantung.

“Andra,” lanjutku, aku baru menyadari bahwa Andra yang ada di hadapanku saat ini.

“Iya, Arinda Friska Nataya,” ujarnya dengan menyebut nama lengkapku. Sambil duduk di hadapanku. “Oya aku punya sesuatu untuk kamu,” lanjutnya. Ia merogoh kantong jaket baju yang dikenakannya.”Ini,” katanya sambil meletakan sebuah CD musik di atas meja kemudian menyodorkannya.
“Kopi Coklat?”

“Iya itu alasan kenapa aku tak bisa menemuimu beberapa minggu ini, itu lagu kita,” jelasnya sambil tersenyum.

“Ayo kita mulai!” serunya.

“Baiklah,” balasku.

Dengan senyum yang terus terukir kami berseru, menyebutkan minuman yang kami pegang masing-masing sambil menuangkannya bersamaan ke dalam gelas kosong tadi.

“Kopi”

“Cokelat”

”Kami mengisi kekosongan dan menciptakan rasa serta aroma yang berbeda dengan mencamurkan semua perbedaan yang ada, layaknya kopi dan cokelat”

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer